| Majelis Daerah | Besuki Barat |
| Jemaat | Rejoagung |
| Alamat | Jln. Kapuas No.43 Desa Rejoagung Kecamatan Semboro Kabupaten Jember |
| Jadwal Ibadah | Induk I pukul 06.00 Induk II pukul 09.00 Induk III pukul 18.00 *) Minggu I,II, III Penghantar Bahasa Indonesia *) Minggu IV dan V penghantar bahasa jawa *) INDUK III di Minggu III ibadah kontemporerPepanthan tanggul pukul 08.00 penghantar bahasa Indonesia Pepanthan Semboro pukul 07.30 penghantar bahasa Indonesia Warga marenco Wringin Agung pukul 08.00 penghantar bahasa Indonesia Kelompok Lukas Gumukwatu pukul 09.00 bahasa penghantar seperti di indukIbadah KRW Dilaksanakan setiap hari Rabu serempak pukul 17.30 |
| Sejarah | Jemaat Rejoagung diawali dengan kedatangan 7 KK dari Desa Kertorejo Kabupaten Jombang, yaitu : 1. Marwi Kertowiryo 5 Pramu Suwardi. 2. Pandri alias Nastiti 6. Prami Plontang 3. Rupingi, 7. Insamudro Darmo 4. Purwo Pada tahun 1907 mula-mula mereka datang kedaerah yang sekarang dikenal dengan nama Dusun Darungan.Mereka mencari jalan bagaimana caranya membuka hutan, mereka pertama kali berhubungan dengan Kepala Kehutanan yang memberi petunjuk bagaimana cara mengajukan permohonan kepada Pemerintah pada saat itu. Kemudian mereka menghadap kepada Pdt. Van Der Spiegel dari JAVA COMITEE yang berkedudukan di Bondowoso agar bersedia menjadi perantara bagi mereka dalam membuka hutan. tahun 1907 mereka diijinkan untuk membuka hutan yang dimaksud. Pada tahun 1910, pembukaan hutan sudah cukup luas dan dapat dipergunakan sebagai pemukiman penduduk. Setiap hari minggumereka mengadakan kebaktian secara bergiliran di tempatnya. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. VAN DER SPIEGEL 2X dalam satu bulan setiap hari minggu. Saat itu jumlah warga sudah bertambah menjadi 12 kk dengan jumlah 31 jiwa warga dewasa / anak-anak. Tahun 1913, jumlah warga bertambah lagi menjadi 17 KK. Atas saran dan pandangan dari Pdt Van Der Spiegel karena sudah dianggap cukup kuat merekapun membangun sebuah rumah biasa dari tiang kayu dengan atap daun selang/rotan yang digunaklan sebagaitempat untuk ibadah. Dan untuk memperkuat dan menumbuhkaniman mereka, maka diangkatlah seorang Pamulang yaitu “Bpk Marwi Kartowiryo”. Pada tahun 1915 jumlah warga menjadi 17 KK dengan jumlah 65 jiwa warga dewasa dan anak. Pada tahun itu juga mereka mengadakan musyawarah untuk memberi nama desa baru hasil pembukaan hutan yaitu Desa REJOAGUNG yang memiliki arti REJO : diharapkan nantinya menjadi Desa yang ramai , AGUNG : hutan yang banyak airnya, seperti laut. Desa Rejoagung ini nantinya diharapkan dapat menjadi “Sebuah Desa Kristen”, sehingga yang boleh ikut membuka hutan adalah orang-orang kristen atau mereka yang bukan orang kristentetapi harus bersedia menjadi orang Kristen. Dalam musyawarahnya tersebut, mereka menetapkan peraturan desa/hukum adat yang diberlakukan kepada warga secara turun temurun dan harus dipegang teguh adalah : 1. Tidak boleh menjual tanah kepada penduduk diluar desa/lain daerah. 2. Jika terpaksa dijual kepada orang diluar desa, orang yang membeli tersebut harus mematuhi peraturan desa yang telah ditetapkan. Tahun 1920 Pdt. Van Der Spiegel digantikan oleh Pdt. Van Den Berg. Jumlah warga juga bertambah menjadi 68 KK, atau 180 jiwa warga dewasa dan anak-anak. Pada Thun 1921 atap rumah Ibadah diganti dengan genting yang memiliki dwi fungsi ; 1. Setiap hari Minggu digunakan sebagai tempat ibadah dan sekolah Agama (Katekisasi). 2. Hari-hari lain dipakai sebagai sekolah Dasar atas usaha Zending (Zending School). Antara tahun 1923-1929 Kepala Desa didampingi Pdt. Van Den Berg dan Pamulang Marwi Kartowiryo mendirikan sekolah milik Gereja yang diperuntukan khusus bagi anak-anak Sekolah Zending kelas Y dengan masa belajar selama 2 tahun lamanya. Pada tahun 1929, Jemaat Rejoagung untuk pertama kalinya menerima tenaga pendeta dari orang pribumi / suku jawa yaitu Pdt Susalam Wiryotanoyo, yang dalam tugas pelayanannya di damping oleh Pdt Van Den Berg. Akhir tahun 1929 Pdt. Van Den Berg digantikan oleh Pdt. O. Dedecker dari Java Comitee yang melayani jemaat Rejoagung setiap 3 bulan sekali. Karena Pamulang Marwi Kartowiryo sudah lanjut usia maka beliau meletakan jabatannya dan digantikan oleh Eprayim Yohanes selaku pamulang yang baru.Saat itu jumlah warga sudah mencapai 245 KK, 480 jiwa warga dewasa dan anak-anak. Dalam kepemimpinan Pdt Susalam Wiryotanoyo dibagun sebuah Gedung Gereja yang baru dengan ukuran 12 X 24 M ,yang dibangun mulai tahun 1931-1932. Dengan adanya Gedung Gereja yang baru ini semakin memantapkan kehidupan warga dalam bermasyarakat dan bergereja/berjemaat. Tahun 1934, kegiatan pemuda mulai bangkit yang ditandai dengan berdirinya Persatuan Muda Kristen Jawi ( MKD ). Dan pada tahun itu pula Pdt Susalam Wiryotanoyodimutasikan kedaerah lain. Pada tahun 1935, jumlah warga sebanyak 289 KK, 525 jiwa. Terdiri dari warga dewasa dan anak-anak. Dalam tahun itu pula Rejoagung menerima Pendeta baru yaitu : Pdt Nursaid Seco yang melayani selama lima tahun dengan didampingi oleh pamulang yang baru yaitu Bpk Ribowo. Pada tahun 1940 Pdt NursaidSeco dipindahkan dan digantikan oleh Pdt. Mirso yang melayani Rejoagung selama 1 tahun ( 1940-1941). Pada tahun 1942, jemaat Rejoagung kembali menerima Tenaga Pendeta Baru yaitu : Pdt. Renggo bersama dengan masuknya tentara / pemerintahan Jepang . Pada tahun 1943, Jemaat Rejoagung mengalami pencobaan yang sangat berat. Banyak anggota jemaat yang ditahan oleh Ken Pei Tai ( Polisi Militer Jepang ) mereka menerima penganiayaan dan siksaan yang berat, termasuk Pdt Renggo yang mendekam dalam tahanan selama 4 bulan lamanya. Banyak dari merekayang menjadi kurban penyiksaan dan penganiayaan antara lain Wincono, Soewitoadji, Tik Purwo, Restopo, Malik, Jidin, dan masih banyak yang lainnya, mereka meninggal di dalam tahanan. Warga jemaat dilarang untuk mengadakan kebaktian di Gereja. Gedung Gereja di tutup, semua buku-buku administrasi disita oleh pemerintah Jepang. Tahun 1943 – 1944, Desa Rejoagung kosong warga mengungsi ke daerah/ Desa lain. Pelayanan Gerejawi seperti nikah, babtis, sidhi, dan lain-lainnya untuk sementara waktu dilayani oleh jemaat jemaat yang berdekatan seperti Sidorejo, Sidoreno dan Tunjungrejo. Pendidikan bagi anak-anak baik pendidikan formal maupun rohani menjadi terbengkelai. Disebelah kanan Gedung Gereja didirikan langgar/ musola dengan maksud supaya warga mau melakukan solat. Baru pada bulan Agustus 1945, dengan kekalahan Tentara Jepang atas sekutu dan Indonesia menyatakan sebagai Negara yang merdeka, warga terbebas dari segala penderitaan dan rasa takut. Maka pada bulan Oktober 1945, kebaktian dibuka kembali yang dilayani oleh Pdt Marjo Sir yang pada saat itu selaku ketua Sinode. Semua yang rusak dibenahi/ diperbaiki kembali oleh warga. Dalam kebaktian tersebut banyak warga yang menangis dan terhari karena teringat akan penderitaan yang mereka alami selama penjajahan oleh Jepang dan banyak anggota keluarga yang meninggal didalam tahanan akibat kekejaman tentara Jepang. Anggota Majelis Jemaat saat itu tinggal 9 orang, sedangkan yang 3 orang meninggal dunia.Selesai kebaktian, Pamulang Ribowo yang saat itu selaku wakil ketua menanam pohon “ Ketangi” disebal kanan Gedung Gereja sebagai suatu peringatan bagi warga, terutama anak cucu mereka. Pohon tersebut sampai sekarang masih tetap hidup dan dikaga dan dirawat oleh warga jemaat. Pohon ketangi memilikimakna yang sangat berarti dan mendalam bagi warga jemaat, “ tangi “ artinya bangun, buahnya “jenggelek” artinya bangkit berdiri sedangkan bunganya berwarna “ungu” (Bahasa jawa : Wungu)yang berarti bangun dari tidur Makna seluruhnya : Agar warga Jemaat mau bangun kembali untuk menjadi saksi Kristus. Karena kRistuslah yang menyelamatkan kita. Sejak dibukanya kembali kebaktian pada bulan Oktober 1945-1947, Jemaat rejoagung mengalami kekosongan tanpa Pendeta. Kebaktian hanya dilayani oleh anggota Majelis jemaat secarta bergiliran. Pamulang tetap Bpk Ribowo dengan dibantu oleh Bpk Rahmat Yohanes. Tahun 1947, menerima tenaga pelayan yaitu Vikaris Sutiknyo Akas. Atas permintaan dari warga Jemaat, beliau diminta kesediaannya untuk menjadi Pendeta di Rejoagung, dan beliau bersedia untuk menjadi Pendeta di Jemaat Rejoagung, dengan didampingi oleh Pamulang Rahmat Yohanes. Dan saat itu jumlah warga sudah mencapai 322 KK, 1350 jiwa tang terdiri dari warga dewasa dan anak-anak. Perkembangan Pekabaran Injil sangat baik, sehingga lahir warga-warga baru ( wargo Marenco) disekitar desa Rejoagung, seperti Pondok Waluh (Desa Wringinagung ), Semboro dan Tanggul Kulon, Sukoreno. Tahun 1959 PdtSutikno Akasdimutasikan dari Rejoagung. Sediaji Mitrotanoyo dengan didampingi Pamulang Rahmat Pada tahun 1960, Jemaat Rejoagung menerima tenaga Pendeta yaitu Pdt Yohanes dan di bantu oleh Bpk Poerwendro Kertowiryo. Akhir tahun 1963 , Pdt Sediaji Mitrotanoyo meninggal dunia karena sakit, beliau sempat dirawat di RSKI Malang. Jemaat Rejoagung kembali mengalami kekosongan tenaga Pendeta selama satu tahun. Pada tahun 1965, Jemaat Rejoagung kembali menerima pendeta baru yaitu Pdt Setiono dengan didampingipamulang Purwendro Kartowiryo. Saat itu jumlahwarga sudah mencapai 348 KK. Karena banyak warga yang ikut transmigrasi sehingga jumlah warga tinggal 927 jiwa dewasa dan anak. Akhir tahun 1971 Pdt Setiono meninggal dunia, dan jemaat Rejoagung mengalami kekomplangan pendeta selama setengah tahun. Tahun 1972 menerima kembali tenaga Pendeta yaitu Pdt Sukarlan dan mulai saat itu juga tidak ada lagi Pamulang. Dalam melayani jemaat, Pdt Sukarlan dibantu oleh anggota majelis jemaat khususnya pelayanan ke Pepanthan dan wargo marenco. Tahun 1978 Pdt Sukarlan dimutasikan dan Jemaat Rejoagung mengalamii kekosongan pendeta. Selama kekosongan Pendeta, jemaat Rejoagung menerima Vikaris Sri Hadijanto S, selama 2 tahun ( 1978 -1980). Awal Tahun 1980 jemaat Rejoagung menerima tenaga pendeta lagi yaitu Pdt Soerantoro Samino. yang melayani jemaat Rejoagung sampai tahun 1986. Tahun 1986 Pdt Soerantoro Samino dimutasikan ke Jemaat Waru Surabaya. Sebagai penggantinya adalah Pdt. Prasetyo Rasmo. selama 10 tahun melayani Jemaat Rejoagung, dan pada tahun 1996 Pdt Prasetyo Rasmo dimutasikan ke Jemaat Gadang. Pada Bulan Oktober 1996 Jemaat Rejoagung menerima kembali tenaga pendeta yaitu Pdt.Soeprapto Sm.Th pindahan dari Jemaat Mojosari-Mojokerto. Tahun 2003 Pdt Soeprapto Sm.Thdimutasikanke GKJW Jemaat Purwoharjo – Kediri Utara sebagai penggantinya adalah Pdt Teguh Setyoadi, S.Th. Pada bulan September Tahun 2013 Pdt. Teguh Setyoadi, S.Th dimutasikan ke GKJW Jemaat Mutersari. Kemudian digantikan oleh Pdt. Suwito, M.Si sampai tahun 2020. Selanjutnya pada tanggal 22 November 2020 digantikan oleh Pdt Rena Kartikaningrum, S.Si sampai sekarang. |
| File sejarah | |
| HUT / Tanggal Berdiri | 10/31/1907 |
| Wilayah Pelayanan | Utara pepanthan tanggul jarak 8 km Timur pepanthan Semboro jarak 3 km Selatan warga marenco Sukoreno jarak 10 km Barat Wringin Agung jarak 4 km |
| Pepanthan/Blok/Rayon | Pepanthan Tanggul d/a desa tanggul kulon kecamatan Tanggul kab. Jember Pepanthan Semboro d/a Persil Semboro desa Semboro kec. Semboro kab. Jember Warga marenco Sukoreno d/a desa Sukoreno gang 6 kecamatan Umbulsari kab. Jember Warga marenco Wringin agung d/a desa Wringin agung kec. Jombang kab jember |
| Warga Jemaat Laki-laki | 945 |
| Warga Jemaat Perempuan | 920 |
| Warga Anak | 362 |
| Pekerjaan Masyarakat | Petani |
| Pendidikan Masyarakat | SMA (Sederajat) |
| Budaya / Tradisi | Jawa |
| Konteks Masyarakat | Desa Pertanian/Perkebunan |
| Wilayah Berkembang | Tidak |
| Relasi Antar Agama | Harmonis |
| Gedung Gereja | 1 |
| Kapanditan | 1 |
| Bale Pamitran | 1 |
| Ruang Ibadah Anak | 1 |
| Tanah Pekarangan | 1 |
| Sawah | 1 |
| Tanah Makam | Tidak Ada |
| Keterangan Mengenai Aset Jemaat | |
| Mayoritas Pekerjaan Warga Jemaat | Petani |
| Pendidikan Warga Jemaat | SMA (Sederajat) |
| Kategori Jemaat | Jemaat Homogen (Jumlah Warga Jemaat lebih dari 70% jumlah penduduk setempat) |
| Kehadiran dalam Ibadah | 31-49 % |
| TK/PAUD | Dekat (0-5 Km) |
| SD/Sederajat | Dekat (0-5 Km) |
| SLTP/ Sederajat | Dekat (0-5 Km) |
| SLTA/ Sederajat | Dekat (0-5 Km) |
| Perguruan Tinggi | Sedang (6-19 Km) |
| Bidan/Mantri Praktek | Dekat (0-5 Km) |
| Puskesmas/Klinik | Dekat (0-5 Km) |
| Rumah Sakit | Dekat (0-5 Km) |
| Kantor Pemerintah Desa | Dekat (0-5 Km) |
| Kantor Kecamatan | Dekat (0-5 Km) |
| Kantor Pelayanan Publik | Dekat (0-5 Km) |
| Koperasi | Dekat (0-5 Km) |
| Bank | Dekat (0-5 Km) |
| Pasar | Dekat (0-5 Km) |
| Terminal Angkutan Umum | Jauh (Diatas 20 Km) |
| Stasiun KA | Dekat (0-5 Km) |
| Bandara | Jauh (Diatas 20 Km) |
| Program Utama Jemaat | |
| Ketercapaian Anggaran 5 Tahun Terakhir | Rata-rata 100% |
| Catatan atau Informasi lain mengenai Jemaat |

