| Sejarah | SEJARAH SINGKAT GKJW PASAMUAN NGANJUK A. Identitas
Nama Jemaat : GKJW NGANJUK
Lahir : Tahun 1919
Dewasa : 18 Agustus 1930
Tanggal Pentakbisan : 7 Mei 1977
Alamat Gereja : Jl. P. Diponegoro No. 71 A Nganjuk
Telepon : (0358) 321488
Alamat Pastori : Jl. P. Diponegoro No. 71 A Nganjuk
Telepon : (0358) 321488 B. Sejarah singkat Jemaat :
Sejarah singkat Jemaat Nganjuk
1. Pada tahun 1919 di desa Guyangan, Nganjuk ada persekutuan yang anggotanya antara lain ; Mas Sastro dan Mas Poerboadi.
2. Dari dua orang tersebut diatas, berkembanglah persekutuan di desa Kedondong, desa Sukomoro, desa Rejoso, Desa Gondang, Desa Gebang Ayu, desa Ringinanom, desa Sugihwaras, desa Kerep dan desa Setren.
3. Karena pertumbuhan warga yang begitu pesat pada tahun 1929, persekutuan orang-orang Kristen di Nganjuk mendapat bantuan Guru Injil dari pasamuwan Aditoyo (dalam asuhan Pendeta A. Kooistra dari Kediri)
4. Pada tahun 1930 Persekutuan di Nganjuk mendapat Guru Injil tersendiri yaitu Bp. Oerip Sihardjo, maka dibentuklah Raad Pasamuan Alit (sekarang disebut Anggota Majelis Pasamuwan.)
5. Pada tanggal 18 Agustus 1930, Raad Pasamuwan mengadakan rapat yang pertama kali di rumah Mas Sastrodihardjo, desa Kedondong – Nganjuk dengan keputusan antara lain :
a. Persekutuan orang – orang Kristen di Nganjuk mendewasakan diri menjadi Pasamuwan.
b. Memutuskan bahwa uang persembahan dari persekutuan orang – orang Kristen yang besarnya seratus dua rupiah empat puluh sen menjadi milik Pasamuan Nganjuk.
6. Sejak tanggal 11 Desember 1931 Pasamuwan Nganjuk menjadi anggota Pasamuwan Greja Kristen Jawi Wetan hingga saat ini.
7. Pada tahun 1933 jumlah warga pasamuwan terdiri dari : 69 orang warga dewasa dan 56 orang warga anak – anak (data dikutip dari Notulen Rapat Raad Pasamuwan Alit Nganjuk tanggal 14 Januari 1933).
Adapun Susunan Anggota Raad Pasamuwan Alit adalah :
Pangarso : Bp. Guru Injil Oerip Sihardjo
Panitra : Bp. Prasodjo
Hartoko : Bp. Sihadi
Anggota : – Bp. Sudirdjo
– Bp. Natanael
8. Dari Notulen Rapat tanggal 14 Januari 1933 kebaktian diadakan di rumah sewaan Guru Injil, yang tidak dijelaskan dimana alamatnya. Menurut Bp. Kromosastro salah seorang Panitra menyatakan bahwa, tempat kebaktian pindah – pindah sampai 9 kali termasuk di rumah Bp. Kromosastro sendiri, dan yang terakhir sebelum menempati gereja yang sekarang, menggunakan rumah di sebelah selatan gedung gereja yang sekarang.
9. Pada tahun 1942, banyak warga yang ditangkap oleh tentara Pendudukan Jepang. Diantaranya Bp.Oerip Sihardjo, Bp. Djosiman, Bp. J. Matleus Jr, B. M. Schurrman dan H W. Vd. Berg semuanya dipenjarakan dan diantaranya ada yang meninggal di penjara.
10. Tahun 1953 : Keluarga S. Sastroatmodjo masuk menjadi warga GKJW Nganjuk (menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat). Saat itu yang jadi Pendeta Bpk. DS. Djatmiko. Bpk. Somoadi sebagai guru sekolah minggu dan mbah Kromo Sastra sebagai Guru Injil yang kerjanya selalu mengabarkan Injil sambil membawa buku-buku dengan naik sepeda. Bpk. Parsuli (orang tua dari Pak Sasonohardjo. Pak Dwi Suasono yang sekarang di GKJW Bojonegoro dan Pak Darmotaryono yang sekarang di Jakarta) juga ada P.Parmadi juga P. Tugimin (Bpk. dari P. Guruh). Gereja masih menempati kamar 4 x 4 m (sebelah kiri Gereja kita sekarang)
11. 5 Desember 1954 : Pak Said Sastroatmodjo, ibu dan putro-putro alm. Bambang Watjono Hadi, ibu Wahyuningsih, Bpk. Djoko Hartono, Bpk. Djoko Santoso dan Suraris Setiyo di baptis oleh Bpk. Djatmiko (selaku Pendeta GKJW Nganjuk) bersamaan dengan itu Bpk. Sunarbowo dan Ibu Sunarbowo juga baptis serta mratobat dan baru daup suci yang jadi Rat Pasamuan Alm. P.Parsuli, P.Dirdjo, P.Tugimin.
12. 25 Desember 1955 : Bersamaan Baptisnya Bp. S.Sugiyohardjo dan Nugroho Andayani, Bpk. Said Sastroatmodjo mempersembahkan satu buah mimbar dengan bahan kayu jati dan satu buah kotak persembahan
Kromosastro : Guru Injil
Somoadi : Guru sekolah minggu
Sudirdjo : Rat Pasamuan
Tugimin : Rat Pasamuan
Intiyanto : Jemaat
Parsuli : Bendahara
Sunarbowo : Jemaat
Pamerdi : Jemaat
Turido : Jemaat
S.Sastroatmodjo : Jemaat pencari dana pembangunan
Haryono (Djon) : Jemaat Pencarai dana pembangunan (adik P.Pamerdi)
P. Setiyo : Jemaat (inspeksi pendidikan) 13. Pergerakan awal untuk memiliki gedung gereja pada tahun 1965 pada saat Pdt. Pranislan menjadi pendeta baku di GKJW Pasamuwan Nganjuk, yang ibadahnya saat itu menggunakan rumah di sebelah selatan gedung gereja yang sekarang. Warga jemaatnyapun belum banyak tidak lebih dari 10 KK antara lain keluarga Bpk. Sudirdjo, Bpk. Said, Bpk.Parsuli, Bpk.Tugimin, Bpk.Mugono, Bpk.Ramelan, Bpk.Setyomihardjo. Setelah peristiwa G/30/S/PKI usai, banyak orang yang ingin dibaptis masuk menjadi kristen. Pada saat itu yang menjabat sebagai Bupati Nganjuk adalah Bpk.Soendoro Hadinoto,SH dari PNI. Kemudian Pdt.Pranislan mengadakan pendekatan dengan Bupati Nganjuk yang akhirnya Bupati Nganjuk menugaskan : Bpk. Mi’an (Ketua Cab.PNI di Nganjuk), Bpk.Pulungan (Kejaksaan Negeri Nganjuk) dibantu Bpk.Mugono selaku orang Kejaksaan Negeri Nganjuk yang sudah menjadi warga Jemaat GKJW Nganjuk. Akhirnya diadakan kerja bhakti masa yang digerakkan oleh PNI untuk mengumpulkan batu dari Daerah Kuncir-Sawahan oleh para pemuda Banra.
14. Baru setelah tahun 1966 Bpk. Pdt. Pranislan mempunyai firasat untuk menemui Bupati Nganjuk yang pada saat itu dijabat oleh Bpk.Soeprapto,BA yang membuahkan hasil yaitu untuk mempercepat pembangunan gedung gereja. Kemudian Bpk.Pdt Pranislan bertemu Bpk.Dantoko selaku kepala PU saat itu untuk menangani secara teknis pelaksanaan pembangunan gedung gereja sesuai perintah Bupati Nganjuk. Akhirnya kepala PU memerintahkan Bpk.Firman Moeljono untuk menggambar gedung gereja yang waktu itu belum masuk kristen.
15. Pelaksanaan pembangunan gedung gereja ini sempat berhenti dengan keadaan masih dalam bouplank (pengukuran galian pondasi), sampai akhirnya pada tahun 1968 baru ada penunjukkan pemborong oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk Bpk.Soeprapto, pemborong yang ditunjuk adalah Bpk.Soemarmo Desa Kramat CV. Ponco Adi. Sampai akhirnya tahun 1969 berdiri gedung gereja yang ditempati sampai sekarang ini.
16. Namun gedung gereja saat itu belum memiliki Rumah Kapanditan, dan sebelum ada rumah Kapanditan itu keluarga pendeta menempati rumah Bp.Sudirdjo, sampai pada akhirnya pada saat Pdt.S.K.Harjanto,Sm.Th menjadi pendeta baku di GKJW Jemaat Nganjuk pada tahun 1972, membentuk Panitia Pembangunan yang antara lain Bpk.Said, Bpk.Mugono, Bpk.Firman Moeljono
17. Tentang pelaksanaan renovasi pembangunan gedung gereja GKJW Jemaat Nganjuk
Tgl. 2 Oktober 2005 : Penyempurnaan Panitia Pembangunan Gedung Gereja dari Panitia tahun 2001 yang diketuai oleh Bp.Ir. Firman Moeljono, BRE kepada Bp.Drs. Siswo Adie, M.Si.
Tgl. 25 Desember 2005 : Dalam Ibadah Natal dilaksanakan peletakan batu pertama sebagai tanda pembangunan mulai berjalan.
Tgl. 11 September 2006 : Pembongkaran Gedung Gereja secara bertahap dan selesai dalam waktu ± 8 bulan.
Tgl. 25 Mei 2007 : Secara resmi Gedung Gereja dipakai untuk ibadah Jemaat sampai sekarang ini Pendeta yang pernah bertugas di Jemaat ini :
No Nama Pendeta Mulai-Sampai (tanggal) Status (Baku/Konsulen/lainnya)
1. OERIP SIHARDJO 1930 – 1934 Guru Injil
2. OESMAN DARMOATMODJO 1936 – 1941 Guru Injil
3. Pdt. TENITIJOMO TRENOWIJOTO – Baku
4. Pdt. DJATMIKO KARANGMODJO 1955 Baku
5. Pdt. PRANISLAN 1958 – 1972 Baku
6. Pdt. ISMANOE MESTOKO 1972 Baku
7. Pdt. SK. HARJANTO , Sm. Th. 1972 – 1983 Baku
8. Pdt. GIDEON MARDIONO B , Sth. 1984 – 1986 Baku
9. Pdt. SRIMOJO , Sm, Th. 1986 – 1996 Baku
10. Pdt. YOHANES PUJI SUGIARTO , Sth. 1996 Baku
11. Pdt. BAMBANG P.S , S Th. 1997 – 2003 Baku
12. Pdt. FAJAR YUWONO , Sm. Th. 2003 – 2009 Baku
13. Pdt. SINUNG MAWANTO, S.Th 2009 – 2018 Baku
14 Pdt. AGUS KURNIANTO, S.Th 2018 – 2021 Baku
15. Pdt. AGUS WASONO, S.Th., M.Min 2021 – sekarang Baku SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA PEPANTHAN NGRONGGOT 1. Kehadiran Cikal Bakal :
Th. 1937 : Bpk.Notosiswoyo seorang Guru SD beserta isteri dan 4 orang putranya. Tahun 1945 keluarga ini pindah dinas di Kertosono
Th. 1943 : Bpk.Prawoko pegawai Kecamatan Ngronggot beserta isteri yang menjadi guru SD
Th. 1946 : mulai ada Ibadah kelompok bertempat di rumah Ibu Satiyem, Dk.Bandung,Ds.Betet,Kec.Ngronggot. Pelayan Bpk.Prawoko. Guru Injil Nganjuk pada saat itu Bpk.Oesman Darmoatmodjo asal dari Sidorejo-Tanggul-Jember, sesudah itu Ibadah kelompok dilaksanakan di rumah Bpk,Prawoko, Ds.Ngronggot secara bergantian.
Th. 1949 : Bpk.Swiadidan isteri dinas di Ngronggot sebagai penjaga SD Ngronggot II
Orang-orang tersebut diatas merupakan perintis dan bibit orang kristen yang pertama di kec.Ngronggot 2. Berdirinya Pepanthan Ngronggot :
Pada tgl. 11 Juni 1961 terjadilah baptisan dalam jumlah besar, pada hari itu 11 Juni 1961 oleh Bpk.Pdt. Djatmiko ditetapkan sebagai berdirinya pepanthan Ngronggot, dengan ketua pepanthan Bp.Prawoko. 3. Kejadian-kejadian penting
27 April 1964 : Bpk.Prawoko terkena musibah putra menantu anggota AL tidak diperbolehkan dimakamkan di kuburan umum
Th. 1964 : umat kristen Ngronggot mendapat penyerahan kuburan kristen atas jasa Bpk.Nyono Kades Ngronggot.
s/d th. 1989 : Ibadah tidak bisa menetap, tempatnya selalu berpindah-pindah : Ngronggot – Mojokendil – Bandung
Mei 1989 : mendapat ijin bangunan dari Bupati
Juni 1989 s/d
Desember 1989 : Pembangunan gedung gereja serentak dibangun dan 6 bulan bangunan tersebut berhasil diselesaikan oleh Panitia Pembangunan
Natal 1989 : Gedung gereja diresmikan pada perayaan Natal tahun 1989 SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA PEPANTHAN WARUJAYENG Sekitar tahun 1963-1964, di Desa Tanjunganom ada ± 5 keluarga kristen yaitu : keluarga Bp.Wiro (Alm), keluarga Bp. Kuncoro (Alm) , keluarga Bp.Darijono (Alm), Keluarga Bp.Aris Sukamto (Alm), dan keluarga Bp. Ismangun (Alm). Keberadaan keluarga kristen ini pada waktu itu juga diketahui oleh Bp.Pdt.Pranislan Saribin (Alm). Oleh karena itu diperbolehkan mengadakan Ibadah Minggu yang tempatnya berpindah-pindah dari rumah keluarga tersebut secara bergantian, kadangkala mengikuti Ibadah di Ngronggot di rumah Bp.Prawoko (Alm). Bersyukur pada waktu itu keberadaan orang kristen tidak terusik oleh masyarakat lingkungan. Ibadah kelompok warga ini dilayani oleh Bp.Wiro, Bp.Darijono, Bp.A.Sukamto, dan tidak diketahui apakah mereka ditahbiskan menjadi anggota Majelis Gereja atau tidak.
Perayaan Natal pertama diadakan tahun 1968 bertempat di rumah kontrakan Bp.Darijono Dipan Utara yang kebetulan pendoponya cukup luas ( bekas rumah Pak Lurah ). Walaupun warganya hanya beberapa orang, tetapi mengundang tetangga sekitar dan dengan rela hati mau datang. Perayaan Natal saat itu dilayani oleh Bp.Pdt.Pranislan Saribin (Alm).
Tahun 1970 temapt ibadah pindah di rumah Bp.Raji, dan tahun 1971 mendapat tanah hibah dari Bp.Raji, lalu dibangun rumah ibadah yang biayanya dari swadana warga baik dari Warujayeng maupun dari luar Warujayeng. Oleh Pak Lurah disarankan bahwa kepemilikan tanah hibah diproses menjadi jual beli tanah. Dan karena pada waktu itu Pendetanya Bp.Pdt.Srimojo,Sm.Th, maka kepemilikan tanah gereja atas nama Bp. Pdt Srimojo,Sm.Th dan jadilah gereja yang sekarang menjadi tempat ibadah pepanthan Warujayeng. Gereja mulai direnovasi tahun 2006 dengan tambahan tanah hibah dari Ibu Ariyati. Dan seiring waktu warga Jemaat bertambah, baik dari keluarga baru (baru Baptis) maupun keluarga pindahan dari tempat lain. SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA PEPANTHAN BANARAN Pada mulanya sekitar tahun 1974, Bp.Darmo selama mengikuti ibadah di gereja Nganjuk, tetapi sempat terjadi pergumulan dan pada tahun 1984 baru aktif kembali. Akhirnya Bp.Pdt.Srimojo,Sm.Th mendatangi Bp.Darmo yang akhirnya membawa 2 keluarga yaitu adik-adiknya keluarga Bp.Panidi dan keluarga Bp.Gijar. Pada tahun 1988 diadakan katekisasi 2 keluarga ini oleh Bp.Pdt.Srimojo,Sm.Th di Nganjuk. Setelah berjalan 1,5 tahun lalu bergabunglah 2 keluarga dari Desa Mojorembun, Kec.Rejoso yaitu Bp.Suyitno, dari Desa Ngreco, Kec,Rejoso yaitu Bp.Widodo, dan dari Desa Karangtengah, Kec.Bagor 3 keluarga antara lain keluarga Bp.Anasiadi (Alm), keluarga Ibu Sri Wilujeng dan keluarga Ibu Insusilaningtyas (ponakan Bp.Pdt.Pranislan Saribin (Alm)), dan dari Desa Ngadipiro, Kec.Wilangan keluarga Bp.Sarnam dan dari Desa Tritik, Kec Rejoso keluarga Bp. Tekad.
Ada pergumulan, daripada jauh-jauh beribadah ke Nganjuk lebih baik mendirikan pepanthan, pada waktu itu bertempat di rumah Bp.Gijar pada tahun 1989. Kira-kira setelah 6 tahun berjalan berjalan ibadah di pepanthan Banaran dengan mengangkat majelis setempat yaitu Bp.Anasiadi (Alm) dan Bp.Suyitno. setelah 6 tahun ibadah pindah di rumah Bp.Panidi yaitu mulai sekitar tahun 1995, dan setelah 2 tahun merencanakan tempat ibadah permanen yang pembangunannya sekitar tahun 1997 – 1998 ditanah milik Bp.Panidi sampai sekarang. Sehingga 29 Desember 1998 tempat ibadah diresmikan dan dijadikan sebagai hari Ulang Tahun pepanthan Banaran yang pada waktu itu Majelisnya 4 orang yaitu Bp.Anasiadi (Alm), Bp.Suyitno, Bp.Panidi dan Ibu Sri Wilujeng. SEJARAH BERDIRINYA PEPANTHAN PRAMBON Sejarah berdirinya pepantan Prambon memiliki dinamika yang baik untuk membuktikan kegigihan dalam mewujudkan harapan bersama. GKJW Jemaat Nganjuk saat sekarang memiliki 4 pepanthan yaitu Pepanthan Prambon, Ngronggot, Warujayeng dan Banaran. Terlihat jelas bahwa pepanthan Prambon merupakan bagian dari GKJW Jemaat Nganjuk.
Pepanthan Prambon tidak langsung berdiri begitu saja, melainkan hadirnya dimulai dari berdirinya pepanthan Ngronggot yang pada saat itu pendetanya ialah Bpk. Pendeta Srimoyo. S. Mth. Keseluruhan warga dan mejelis yang ada di pepanthan Nggronggot berasal dari Kecamatan Nggronggot dan Kecamatan Prambon. Adapun nama-nama bapak ibu majelis yang berasal dari Kecamatan Ngronggot ialah:
– Bapak Tudi Subandiyard (Ketua Pepanthan Ngronggot)
– Bapak Swiadi
– Bapak Sudiadi
– Bu Sumijah
– Bu Ndaru
– Bapak Suminto
Adapun yang berasal dari Kecamatan Prambon waktu itu ialah:
– Bapak Sutaji
– Bapak Alex Marunduh
– Bapak Drs Suwignjo
– Drs. Budyo Sutrisno
Pelayanan saat itu berjalan dengan baik “sayup-sayup saikoproyo/guyup rukun” dengan melakukan Ibadah Minggu dan Ibadah Patuwen Brayat. Terkait ibadah patuwen saat itu dilakukan secara bergantian, mengingat di warga dan majelis yang ada di Ngronggot terdapat juga warga dan majelis yang bertempat tinggal di kecamatan Prambon. Maka jalannya ibadah patuwen saat itu dilaksanakan di Ngronggot maupun Prambon. Tempat berlangsungnya ibadah Minggu saat itu mula-mula di rumah Mbah Prawoko, berlanjut ke rumah bapak Suhardi di Wonorejo desa Mojokendil. Seiring berjalannya waktu warga pepanthan Ngronggot memiliki kerinduan untuk membangun gereja.
Pembangunan gereja pepanthan Ngronggot dimulai pertengahan tahun 1990. Sebelum terlaksananya pembangunan gereja pepanthan Ngronggot, membentuk panitia Pembangunan Gereja. Anggota dalam kepanitiaan tersebut merupakan warga dari pepanthan Ngronggot dan dari Induk. Berikut susunan kepanitiaan pembangunan gereja:
Penasehat: PHMJ Nganjuk
Ketua panitia: Bapak Tudy Subandiard
Wakil Ketua 1: Bapak Ir. Suroso
Wakil Ketua 2: Drs. Siswoadi
Sekertaris 1: Bapak Budyo Sutrisno
Sekertaris 2: Bapak Sudiadi
Bendahara 1: Ibu Ndaru
Bendahara 2: Ir. Sindung Harsoyo
Pembantu umum: semua majelis yang ada di Pepanthan Ngronggot.
Memasuki proses pembangunan gereja penuh dengan liku-liku. Beberapa orang saat itu di berikan tanggung jawab lagi untuk menjadi tim penggali dana sehingga bapak Sudiadi dan Budyo Sutrisno memohon bantuan untuk melakukan penggalangan dana di wilayah Nganjuk. Sedangkan bapak Alek Marunduh diberi tanggung jawab mencari dana di Jakarta lalu bapak Sudiono ditugasi untuk mencari dana di Surabaya.
Dari adanya lika-liku serta diiringi perjuangan dan doa, maka bangunan gereja Ngronggot dapat terwujud. Pembangunan gereja Pepanthan Ngronggot selesai pada tahun 1991 diresmikan oleh ketua majelis daerah Kediri yaitu bapak Dr. Sihageng Kromoniti. Dilengkapi juga dengan kelengkapan dokumen-dokumen yang ada, salah satunya dokumen peletakan batu pertama langsung diserahkan ke pihak pepanthan Ngronggot.
Dalam kehidupan pelayanan dan ibadah tetap berjalan dengan baik terutama pepanthan Ngronggot. Memasuki masa Sidang Majelis jemaat yang secara rutin dilakukan setiap 1 bulan sekali, tempatnya berpindah-pindah mulai dari Induk, Pepanthan Ngronggot, Warujayeng dan Banaran. Sidang Majelis jemaat saat itu dipimpin oleh Bpk. Pendeta Srimoyo. Seiring berjalannya waktu, warga yang berasal dari Prambon memiliki niatan untuk memisahkan diri dengan pepanthan Ngronggot, dalam artian ingin membentuk pepanthan sendiri menjadi pepanthan Prambon. Niatan tersebut juga menjadi bahan musyawarah antara majelis dan warga yang berasal dari wilayah Prambon.
Dalam musyawarah saat itu, ternyata terdapat satu hal yang menjadi tugas bersama untuk menentukan lokasi ibadah Minggu di wilayah Prambon. Dari dialog tersebut terkait dimanakah tempat ibadah wilayah Prambon? Akhirnya bapak Budyo Sutrisno mengambil langkah dengan memberanikan diri untuk berdialog dengan mertuanya yaitu Ibu Suyatmi bersama keluaga yang beragama Islam. Hasil dari musyawarah keluarga Ibu Suyatmi mengizinkan kalau rumahnya menjadi tempat ibadah warga Kristen.
Tiga bulan setelah peresmian gereja pepanthan Ngronggot, warga Prambon mau melakukan ibadah sendiri dan menjadi pepanthan di wilayah Prambon. Bapak Budyo Sutrisno dalam sidang majelis jemaat mengusulkan seupaya orang-orang Prambon melakukan ibadah sendiri di wilayah Prambon. Dalam usulan di sidang majelis jemaat banyak pertanyaan dari anggota persdiangan terkait masalah tempat ibadah maupun yang lain-lain, akhirnya dalam persidangan majelis jemaat akan memberikan jawaban dipersidangan bulan selanjutnya.
Dalam persidangan majelis jemaat bulan selanjutnya di setujui untuk melaksanakan ibadah di Prambon dengan catatan: Akan dilaksanakan uji coba selama selama 6 bulan atau 1 semester
Pelaksanaan ibadah minggu ganjil dilaksanakan di Ngronggot sedangkan ibadah Minggu genapdilaksanakan di Prambon.Ibadah keluarga/Patuwen diserahkan penuh kepada warga Prambon
Atas dasar izin dan kesempatan uji coba tersebut, warga prambon sangat sukacita karena bisa mengadakan ibadah sendiri. Uji coba yang seharusnya dilakukan 6 bulan, tetapi dalam perjalanannya warga prambon terlihat sangat siap dan begitu mandiri sehingga pada akhirnya di bulan ke-3 dalam 1 semester itu, majelis dari Prambon mengusulkan di dalam sidang majelis jemaat bahwa di Prambon tidak harus menunggu 1 semester sehingga minggu depan ibadah Minggu langsung dapat berjalan penuh di Prambon. Dari usulan tersebut otomatis akan mengalami kerepotan dalam penataan jadwal tetapi semua bisa diatur. Hasil Sidang Majelis jemaat saat itu menetapkan bahwa uji coba pepanthan Prambon yang 6 bulan akhirnya dicabut menjadi 3 bulan saja dan warga prambon dapat ibadah sendiri yang langsung dilayani dari Nganjuk.
Pada tanggal 28 Desember 1992, warga wilayah Prambon diresmikan oleh bapak pdt. Srimoyo bersamaan dengan perayaan Natal disahkan menjadi Pepanthan Prambon dengan ketua pepanthan yaitu Bapak Budyo Sutrisno. Saat itu juga dihadiri dari pihak Muspika kec.Prambon, Perangkat Desa dan warga lingkungan sekitar yang mayoritas Muslim.
Pepanthan Prambon melaksanakan perayaan Natal selalu mengundang unsur kecamatan dan dari desa serta warga lingkungan sekitar sebagai bukti dalam menjalin relasi dan kerja sama dengan sesama. Ketika pepanthan Prambon melaksanakan peribadatan Minggu. Membuat banyak orang Prambon yang waktu itu tidak pernah ke Gereja dengan mendengar dan tau kakau di desa Sugihwaras ada gereja yang bertempat di rumah ibu Suyatmi membuat orang-orang tersebut bangun dari tidurnya sehingga banyak yang ke gereja dan akhirnya warga pepanthan Prambon bertambah banyak. Melihat perkembangan warga Pepanthan Prambon semakin banyak, maka muncul kembali kerinduan untuk mendirikan bangunan khusus untuk dijadikan tempat Ibadah.
Semangat warga pepanthan Prambon yang luar biasa membuat mereka memiliki kerinduan untuk membangun gereja. Dari kerinduan tersebut dalam rencana bersama, tersirat pokok pembahasan terkait perizinan ketika membangun gereja. Dalam perundingan saat itu menghasilkan kesepakatan bahwa bukan gereja yang didirikan melaikan Tempat Pembinaan Warga (TPW). Lokasi TPW berada di Sugihwaras Gang 3, yang mana tanah tersebut merupakan pemberian dari Ibu Suyatmi. Dalam perjalanannya, segala keperluan atau uborampennya sudah dipersiapkan oleh warga gereja Prambon, sehingga TPW mulai dibangun pada hari Kamis Pahing bulan April 1994. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Muspika Kec. Prambon.
Sepotong kisah sebelum dilakukannya peletakan batu pertama oleh Muspika Kec.Prambon. Bapak Budyo Sutrisno melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Muspika, pihak desa dan lingkungan sekitar dengan salah satu cara yaitu mengumpulkan surat pernyataan bahwa bersedia dan tidak keberatan diadakannya pembangunan TPW. Maka akhirnya pas Kamis Pahing bulan April 1994 dilaksanakan peletakan batu pertama yang juga dihadiri oleh pihak dari Koramil.
Peletakan batu pertama di pagi hari berjalan dengan baik, mulai dari penggalian tanah sampai menata pondasi. Memasuki siang hari, ternyata Camat selaku Kepala Wilayah Kecamatan Prambon yaitu bapak Agus Susanto, S.H memberikan surat kepada bapak Budyo Sutrisno sebagai ketua panitia dan ketua pepantham Prambon untuk menghentikan pembangunan gereja. Kata yang tertulis dalam surat yaitu “gereja” padahal bapak Budyo Sutrisno tidak mengatakan gereja tetapi TPW. Melalui adanya surat tersebut akhirnya pembangunan dihentikan, Setelah itu bapak Budyo Sutrisno melakukan koordinasi dengan Kecamatan namun tetap mendapat perintah untuk menghentikan pembangunan tersebut. Maka seluruh panitia pembangunan mematuhi perintah tersebut untuk menghentikan proses pembangunan TPW.
Melihat isi surat dari Kecamatan tertulis bahwa penghentian “tidak terbatas waktu dan kapan harus dijalankan” jadi menghentikan dengan tidak ada batas waktu. Dalam perjalanannya warga gereja pepanthan Prambon tetap diharapkan untuk tenang dan tetap beribadah. Hampir 2 tahun, panitia pembangunan TPW Pepanthan Prambon mendapat undangan ke kantor Kabupaten. Undangan tersebut dihadiri dari pihak kecamatan, mantri polisi yang bernama bapak Sudipo, Kepala Desa yaitu bapak Suparjan, RT&RW, Ibu Suyatmi, bapak Budyo Sutrisno, bapak Pdt. Srimoyo dan bapak Suwignyo. Juga hadir Kasospol, kepala Departemen Agama Kabupaten, Kesra, Kodim, Polres dan dari Kejaksaan yaitu bapak Aponno. Sebelum sidang berlangsung, diberi kesempatan untuk berdoa terlebih dahulu agar dari persidangan saat itu bisa berhasil dengan baik. Saat persidangan dimulai, waktu itu perjalanan persidangan terjadi perdebatan yang ulet. Dalam proses musyawarah saat itu pihak gereja pepanthan Prambon dicercah dengan pertanyaan dari berbagai penjuru tetapi pertanyaan tersebut bisa dijawab walaupun terjadi debat kusir. Sidang yang berjalan selama 3 jam menghasilkan keputusan terakhir dari kepala Departemen agama Kabupaten Nganjuk yang hasil keputusannya bahwa pembangunan gedung TPW harus dihentikan dan tidak boleh dilanjutkan, bahkan ibadah Minggu tidak boleh dilakukan di rumah. Dari hasil keputusan tersebut akhirnya ibadah Minggu berlangsung keliling mulai dari wilayah Watudandang, Sugihwaras, Sonoageng dan Baleturi selama dua bulan dan kembali di rumah bapak Budyo Sutrino. Dari perjalanan tersebut, warga Pepanthan Prambon tetap semangat bahwa gereja adalah persekutuan orang-orang percaya. Bentuk fisiknya memang bentuk bangunan tetapi gereja tidak hanya dilihat dari fisiknya saja melainkan persekutuan atau perhimpunan orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus itu juga diartikan sebagai gereja.
Dalam proses peletakan batu pertama sampai berjalan lebih dari 3 bulan ada teror terhadap bapak Budyo Sutrisno bahkan teror tersebut ada yang membawa pedang Samurai di geret oleh sepeda motor di depan jalan rumah, juga di teror secara langsung lewat pengajian-pengajian di masjid. Dari semua teror tersebut menyampaikan kepada penduduk sekitar agar “Jangan sampai ada yang membantu Budi (Bapak Budyo Sutrisno) dalam mendirikan gereja, kalau sampai masyarakat ada yang membantu maka akan dibunuh sebelum membunuh Budi. Teror tersebut menjadi hal yang sering dilakukan karena berlangsung begitu lama dan diserahkan kepada Tuhan untuk menolong umatNya. Dari kejadian seperti itu, warga pepanthan Prambon akhirnya tetap melakukan ibadah Minggu di rumah bapak Budyo Sutrisno. Melalui ibadah di rumah bapak Budyo Sutrisno, akhirnya beliau sendiri berpikir “pie carane aku iso ibadah tenang”. Di tahun 2006 Tuhan memberkati bapak Budyo Sutrisno melalui keberhasilan dari usaha perikanan pembudidayaan ikan Gurame. Dari berkat yang melimpah dari Tuhan tersebut muncul kerinduan bahwa tanah sebelah rumah beliau akan jadikan TPW. Atas pertolongan Tuhan, akhirnya terwujud membangun TPW. Pembangunan TPW berhasil dilakukan oleh bapak Budyo Sutrisno hanya dengan Tuhan Yesus saja, dengan pengertian bahwa tidak meminta dana dari teman, warga gereja maupun dari Jemaat Nganjuk tetapi hanya hasil dari pembudidayaan ikan Gurame. Dari berkat Tuhan Yesus saja terwujud bangunan yang ada ini sampai sekarang. Kalau dulu warganya banyak, sekarang berbeda karena ada yang pindah tempat/rumah dan banyak yang sudah lansia akhirnya meninggal dunia bahkan banyak yang pergi jauh merantau. Tetapi semuanya memiliki kenangan di pepanthan Prambon sampai saat ini.
Majelis jemaat setelah proses pembangunan TPW itu akhirnya bertambah yaitu dari bapak Budyo Sutrisno sebagai koordinator juga bapak Suwignyo, ibu Murnisari Ningsih, ibu Sukaryanti, Ibu Unggardiningtyas, Mbk Dian Novi Nugrahani, bapak Subeno dan Pak Wahyu Widodo. inilah sepintas perjalanan pepanthan Prambon, dalam perjalanannya pepanthan Prambon bisa mandiri di bawah naungan GKJW jemaat Nganjuk.
Tidak berhenti pada berdirinya TPW Pepanthan Prambon saja, tetapi warga pepanthan Prambon memiliki kerinduan untuk mempunyai rumah masa depan yaitu Pemakaman Kristen. Atas berkat dari kelonggaran dana bapak Suwignyo dan ibu Pujiastutik sebagai istrinya, beliau memandegani membeli tanah pertama 10 ru hingga akhirnya kedepannya setiap keluarga pepanthan Prambon mau melakukan urunan 1 ru yang harganya Rp 375.000 hingga terwujudnya kerinduan itu dan ada sampai sekarang pepanthan Prambon memiliki makam Kristen dengan luas 35 ru.
Demikian sekilas sejarah pepanthan Prambon, semoga pepanthan Prambon tetap berjalan dengan baik. Perjalanan selanjutnya pepanthan Prambon memiliki kerinduan lagi bahwa dengan adanya 3 pepanthan mulai dari Warujayeng, Ngronggot dan Prambon untuk menjadi satu jemaat yang dewasa, mandiri dan menjadi berkat. Mendengar adanya kerinduan tersebut, maka dalam perjalanannya jemaat GKJW Nganjuk yaitu Bapak Pendeta Agus Wasono S.Th, M.Min ini membentuk tim yang terkait dengan penjajakan jemaat di tiga pepanthan tersebut sehingga dianalisa bisa menjadi Jemaat atau tidak. Ternyata dalam hasil penjajakan, segala persyaratan yang diminta dari Majelis Agung yang tertulis dalam Tata Pranata memenuhi syarat. Semoga Tuhan mengabulkan kerinduan dan doa warga pepanthan Prambon, Ngronggot dan Warujayeng. Tuhan menyertai kita. Amin. |