| Sejarah | Catatan 166 Tahun GKJW Jemaat Aditoya: Terus Berjuang Menjadi Berkat Setelah berkenalan dengan Yakobus Singotruna (seorang prajurit Diponegoro yang menjadi murid Coolen dan dicatat pandai penuh ngelmu), Raden Kartoguna seorang dalang keturunan Bupati Bangkalan R.M. Abdurasid Cakrakusuma menerima Tuhan Yesus Kristus Sang Ratu Adil sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Pada 12 April 1846 Kyai Kartoguna bersama Kiai Wirja Sentika dari Madiun bersama 25 orang Jawa dibaptiskan di Surabaya setelah pada tanggal 25 September 1844 pernah gagal dibaptis karena perjalanan jauh pada masa itu yang menyebabkan sesudah sampai di tempat pembaptisan ternyata upacara pembaptisan sudah usai. Raden Kartoguna mendapatkan nama baptis Markus dengan penambahan nama Baris sebagai penanda bahwa ia merupakan trah Paku Buwono I yang mengalir darah Majapahit Brawijaya V dan darah Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo di tubuhnya. Kyai Markus Baris sangat tekun belajar kekristenan di Sidokare Sidoarjo dalam pola pemuridan di bawah Pdt. J.E. Jellesma pendeta misi dari Belanda yang sangat setia dan sangat rendah hati menghormati kejawaan para pribumi pengikut Sang Ratu Adil yang tekun belajar bersamanya.
Lebih kurang setelah 11 tahun merendahkan hati dalam ketekunan nyantrik mengikuti karya pemuridan maka pada tahun 1857 Kiai Markus Baris bersama Kiai Yusuf melakukan pekabaran Injil mengarah ke daerah kaki Wilis di lingkungan Pace-Nganjuk dan merintis wilayah Aditoya sebagai basis mereka berkarya. Selain di lingkungan Dusun Aditoya, Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk Kiai Markus Baris membantu Pekabaran Injil di daerah Wonoasri Kediri, Warujayeng Nganjuk dan daerah sekitarnya. Tahun 1857 mulainya perintisan Pekabaran Injil di Aditoya inilah menjadi tanda permulaan penghitungan 166 tahun ulang tahun Pasamuwan Aditoya. Pada 10 Agustus 1862 dicatat baptisan pertama bertempat di Aditoya atas diri: Sartji Ranasana, Sutjinah Ranasana, beserta Rosalinah Baris (anak perempuan Markus Baris), di mana baptisan sebelumnya dilaksanakan di Kediri atau Surabaya atau tempat lainnya. Baptisan awal pada tanggal 10 Agustus1862 di Aditoya tersebut menjadi penanda tanggal dan bulan ulang tahun Gereja dirayakan pada saat ini.
Kiai Markus Baris adalah Guru Injil dan kepala keluarga yang penuh kasih dan keteladan menyatakan kasih Kristus. Istrinya bernama Miryam. Mereka dikarunia dua putra dan dua putri. R. Yolian Pranoto Baris, R.Ng. Jamsi, R.Ng. Rosalinah Baris, dan R. Yonio Baris. Keteladanannya mencintai Kristus diikuti oleh dua anak laki-lakinya yang turut dengan tekun menjadi Guru Injil: Guru Injil Yulian Baris laki-laki sulung menjadi Guru Injil mula-mula di Wonoasri dan selanjutnya menetap di sana. Guru Injil Yunio Baris menjadi Guru Injil di Aditoya maupun juga dicatat turut membantu pelayanan di Wonoasri-Kediri. Mbok Jamsi anak perempuan Kiai Markus Baris menikah dengan Bertus dan tinggal di Sindurejo mendukung anaknya Guru Injil Dirun Projo. R.Ng. Rosalinah Baris tinggal setia di Aditoya. Anak cucu, dan banyak cicit generasi dari Kiai Markus Baris dipakai Tuhan menyatakan kasih-Nya menjadi keluarga yang penuh hormat kepada Kristus, menyebar kemana-mana mewartakan Injil. Sementara itu Guru Injil Yunio Baris tinggal dan mendampingi umat di Aditoya yang saat itu wilayahnya mencakup Waduk Lak Cang sampai Aditoya saat ini. Termasuk tercatatlah dua orang pendeta baku di Aditoya, yaitu Pdt. Fajar Wicaksono (2002-2012) keturunan Guru Injil Markus Baris dari jalur Guru Injil Yunio Baris sementara Pdt. Wawuk Kristian Wijaya (2019- …) adalah keturunan ketujuh Kyai Markus Baris R. Kartoguna dari jalur sang anak Guru Injil Yulian Pranoto Baris. Juga banyak warga Aditoya yang sekarang aktif bergereja merupakan generasi dari anak cucu Markus Baris maupun perintis Injil di Aditoya lainnya. Benarlah dalam hal ini kesaksian Mazmur 37:25: “Tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan atau anak cucunya meminta-minta roti.”.
Para pendahulu dari Aditoya menyebar ke berbagai penjuru mengabarkan Injil. Misalnya Eyang Petrus dan Lewi dari Aditoya yang menginjil ke daerah Kediri dicatat berhasil “numbali” daerah Sambirejo Kediri sehingga bisa ditinggali dan berdiri Gereja GKJW Sambirejo Kediri. Kemudian tercatat Guru Martawilaja dari Aditoya yang dari Aditoya bergerak ke Sambirejo, Sidorejo, hingga Tunglur. Pdt. Alex Pranoto Baris menginjil hingga banyak daerah di Kabupaten Malang menjadi desa-desa basis kekristenan. Dimuliakanlah Kristus melalui jerih juang para leluhur Aditoya.
Pada awal tahun 1900-an Aditoya dikenal sebagai daerah peletak dasar pendidikan dengan adanya sekolah yang paling awal berdiri di lingkungan Kecamatan atau lebih tepatnya Kadipaten Pace saat itu. Banyak guru dan cerdik pandai lahir dari Aditoya dan kemudian menyebar ke berbagai daerah. Pada mulanya ketika hutan di sekitar kaki Wilis masih lebat daerah sawah di lembah Aditoya menjadi lumbung pertanian daerah Aditoya juga dikenali sebagai lingkungan lumbung pertanian tempat banyak buruh tani dari lingkungan sekitar mencari nafkah. Pada tahun 1970-an hingga era 1990-an lingkungan Aditoya dikenali dengan warganya yang berprestasi dalam olahraga voli, tenis meja, grup paduan suaranya juga merupakan andalan di Kabupaten Nganjuk. Sebagai Gereja yang tumbuh sebelum tahun 1900, Pasamuwan Aditoya adalah salah satu Pasamuwan yang mendukung berdirinya Majelis Agung GKJW pada 1931. Hanya, sekalipun tumbuh sebelum tahun 1900-an, Pasamuwan ini tidak memiliki tanah benghkok yang luas seperti banyak pasamuwan lain yang lahir sebelum 1900-an.
Sepeninggal Guru Injil Yunio Baris yang wafat pada tahun 1943, selama berpuluh tahun karena terpencil dan dianggap miskin, Pasamuwan Aditoya tidak mendapatkan pendeta baku sampai tahun 1995. Namun mental juang keturunan para pekabar Injil perintis Aditoya yang disertai pemeliharaan Tuhan menjadikan pasamuwan tetap bertahan di daerah kaki Wilis yang terkenal kering ketika musim kemarau, menjadikan Gereja lestari berdiri sampai kini dengan segala dinamikanya. |