Jemaat Ngawi

Majelis DaerahMadiun
JemaatNgawi
AlamatJL. DIPONEGORO 40 NGAWI
Jadwal IbadahJam 06.00 Induk (bahasa jawa)
Jam 08.00 Induk (Bahasa Indonesia)
Jam 07.00 Pepanthan Kaweng (Bahasa Jawa – Indonesia)
Jam 07.00 Pepanthan Jururejo (Bahasa Indonesia)
Jam 07.30 Pepanthan Dawu (Bahasa Jawa)
Jam 07.00 Pepanthan Dawu (Bahasa Jawa – Indonesia)
SejarahSEJARAH UMUM GKJW
A. Warga Marenca Ngawi
Bermula dari penuturan pengalaman dan kesaksian yang ditulis almarhun Bapak Moelyadi sekitar bulan Juli 2003 tentang peristiwa-peristiwa penting (bersejarah) yang menghantar berdirinya Greja Kristen Jawi Wetan Pasamuwan Ngawi. Berdasarkan dokumen foto, peristiwa sakramen baptis pertama warga marenca kota Ngawi terjadi pada tahun 1956, oleh Bapak Pendeta Wiryo Musti bertempat di kediaman Bapak Suradi alamat : Jalan Raden Patah. Bapak Moelyadi sebagai salah satu pelaku sejarah, berinisiatip menghimpun arsip, data-data dan dokumen gereja serta data pendukung lain yang masih dapat ditelusuri yang berkait erat dengan perjalanan (proses) berdirinya GKJW Pasamuan Ngawi.

Penulisan sejarah GKJW Ngawi ini dilakukan dengan tujuan dapat menjadi bacaan dan pedoman terutama pada generasi penerus betapa gigih dan uletnya para sesepuh gereja, pada waktu itu untuk mendambakan satu gedung gereja yang layak dipakai beribadah. Setelah sekian waktu mengalami pahit getirnya persekutuan yang selalu berpindah-pindah karena tidak mempunyai tempat beribadah. Bapak Moelyadi yang bekerja sebagai guru pada tahun 1960 dipindahkan tugas dari Kabupaten Tuban ke kota Ngawi, sebagai orang baru tentu belum memiliki banyak kawan, sebagai orang Kristen Bapak Moelyadi berusaha menemukan komunitasnya dan berusaha mencari – cari gereja (gereja Kristen jawa atau sejenisnya) tapi tidak menemukan. Kepada teman se kantor dan kenalan ditempat dia indekost berusaha bertanya tentang gereja tadi, tetapi jawaban mereka “tidak tahu”.

Pada bulan Nopember 1960, saat itu sore hari ketika Bapak Moelyadi berjalan-jalan melewati salah satu rumah yang letaknya dibelakang penjara (Lembaga Pemasyarakatan Ngawi) terdengar nyanyian Malam Kudus dari rumah itu. Ternyata yang menyanyi adalah sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu. Akhirnya Bapak Moelyadi dikenalkan dengan salah seorang tua yang bernama Bapak Suradi, ternyata beliaulah yang memimpin latihan koor tersebut.

Bapak Suradi adalah pegawai negeri yang bekerja di bagian keuangan Kabupaten Ngawi. Perbincangan antara bapak Moelyadi dengan bapak Suradi pada kali pertama bertemu menuturkan bahwa kebaktian warga Kristen dilaksanakan di rumah yang berlokasi dibelakang penjara itu dan yang mendiami rumah itu adalah Bapak Suradi.
Selang beberapa waktu kemudian, pada hari Minggu Bapak Moelyadi datang ke rumah di belakang penjara untuk berbakti, ternyata keadaan rumah sepi, jawaban dari penghuni rumah yang lain, sekarang kebaktian minggu pindah ke Jalan Sentot di rumah Bapak Sampan. Kebaktian Minggu dirumah bapak Sampan diikuti oleh 10 – 12 orang (semuanya orang dewasa tidak ada pemuda atau pemudinya) dan Bapak Suradi sendiri sebagai pelayannya.

Pada bulan Desember 1960 dilaksanakan perayaan Natal dirumah Bapak Sampan di sebuah ruangan yang berukuran sekitar 2 x 4 m2 dengan susunan kursi 2 baris kursi di kiri dan 2 baris kursi di kanan di tata 5 deret ke belakang tidak semuanya berbentuk kursi karena bagian belakang hanya bangku panjang.

Bapak Moelyadi selaku warga tamu dikenalkan dengan semua jemaat yang hadir pada waktu itu, ternyata semua warga yang ikut berbakti pada perayaan Natal tahun 1960 bukan penduduk asli Ngawi, melainkan pindahan dari tempat lain (pindah kerja atau sudah pensiun). Kebetulan saat itu juga kedatangan tamu lain yitu Bapak Samuel Sadikun dari Jemaat GEMIM Menado kembali pulang ke Ngawi karena pensiun dari dinas militer.
Bapak Samuel Sadikun ini rumah tinggalnya di Jalan Patiunus (sebelah timur dalem Kepatihan). Selama bertugas di Menado Bapak Samuel Sadikun ikut aktip dalam organisasi dan pelayanan di jemaat GEMIM, sehingga kehadiran beliau di Ngawi semakin menyemangati persekutuan dan pelayanan. Setelah Natalan tahun 1960 ternyata tempat kebaktian tidak diijinkan lagi dilakukan di Jalan sentot (rumah Bapak Sampan), jadi sementara waktu kebaktian berpindah ke Jalan Raden Patah (rumah Bapak Marsudi) yang dikontrak oleh Bapak Suradi. Selang dua bulan kemudian tempat kebaktian di pindah ke Jalan Patiunus. Istilah yang tepat untuk sekelompok warga Kristen di kota Ngawi pada saat itu adalah warga marenca, sehingga secara organisasi belum ada susunan majelis. Untuk pelayanan sakramen atau kebaktian lain dilayani oleh Bapak Pendeta Siswoyo dari Madiun.

B. Pepanthan Ngawi
Pada tahun 1961 Bapak Suradi sudah menempati rumah baru yang merupakan perumahan rakyat. Tempat kebaktian yang sebelumnya di laksanakan di Jalan Patiunus dipindahkan ke Perumahan Rakyat yang ditempati Bapak Suradi, maka tempat ibadah mulai tetap dan tidak berpindah-pindah. Warga marenca Ngawi pada tahun 1961 disahkan sebagai “PEPANTHAN” dari GKJW Jemaat Wotgalih dan sekaligus ada pelantikan Pendeta YASTUS GARIT, sebagai pendeta baku GKJW Jemaat Wotgalih. Bapak Pdt. Yastus Garit domisilinya di kota Ngawi dan di sewakan rumah di wilayah Kluncing anyar. Seiring berjalannya waktu keanggotaan warga jemaat semakin bertambah dengan datangnya anggota BATALYON ARMED 12 yang sebagian besar berasal dari Menado dan Sangihetalaud.
Pengesahan persekutuan warga Kristen kota Ngawi yang berstatus sebagai pepanthan GKJW Jemaat Wotgalih ditindak lanjuti secara organisasi dan mulai disusun pengurus pepanthan yaitu :
Ketua : Bpk. Suradi
Sekretaris : Bapak Soedarno
Bendahara : Bapak Moelyadi
Bagian Usaha : Bapak Samuel Sadikun
Pembantu Umum : Bapak Digtoharjo

C. Tekad Membangun Rumah Ibadah
Kenyataan pahit getirnya kehidupan warga Kristen dalam bersekutu melakukan ibadah secara berpindah – pindah tempat, karena ditolak dari satu tempat ke tempat sewaan yang lain, rupanya mendorong dan membulatkan tekad warga dan pengurus pepanthan Ngawi untuk segera memiliki tempat ibadah (gedung gereja). Usaha ini dimulai dari percakapan majelis dengan satu rencana membuat gedung gereja sederhana.

Langkah selanjutnya adalah membentuk panitia pembangunan, mencari data pendukung dan penggalian dana. Setelah berusaha mencari informasi kesana dan kemari, pengurus pepanthan mendapatkan data bahwa tanah di Jalan Diponegoro, tepatnya sebelah selatan makam pahlawan adalah tanah eigendom. Penjelasan status tanah ini diungkapkan oleh Bapak Lurah Ketanggi sesuai dengan catatan yang ada di Kantor Kelurahan Ketanggi. Dahulu di atas tanah tersebut pada jaman Belanda dibangun gereja, diperuntukkan bagi tentara-tentara Belanda yang ada di “Benteng Pendem” kota Ngawi. Penjelasan ini diperkuat oleh penunggu tanah ini atau bekas tukang kebon gereja yang ikut memberikan keterangan lisan kepada pengurus gereja. Menurut tukang kebon gereja (almarhum Bapak Tir) gedung gereja itu dibumi hanguskan tentara Jepang yang masuk kota Ngawi saat itu, dan tentara Belanda (KNIL) yang ada di Benteng Pendem ditahan (intternir di sana juga).

Pada tahun 1961 perayaan Natal Pepanthan Ngawi diadakan di Jalan Patiunus di rumah Bapak Samuel Sadikun yang dilayani oleh Bapak Pdt. Yastus Garit. Pada tahun 1962 dan seterusnya stabilitas politik negara mulai mengalami perubahan, sitem multi partai membuat rakyat hidup tidak tenang. Masalahnya tiap partai berusaha merebut kekuasaan. Saat itu tiga partai besar mendominasi kegiatannya dalam upaya menguasai pemerintahan. Tiga partai tersebut adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Majelis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI). Sebagai prolog gerakan 30 September 1965, maka PKI mulai tahun 1963 melancarkan aksi – aksinya melalui gerakan menduduki tanah-tanah milik Belanda dalam usaha melenyapkan tuan-tuan tanah.
Barisan Tani Indonesia (BTI) sebagai kader-kader PKI banyak menduduki dan membagi – bagikan tanah pada anggota – anggotanya. Dalam hal ini tanah bekas gereja jaman Belanda di Jalan Diponegoro yang tampak kosong itu tahun 1962 tiba-tiba diberi papan nama “ MILIK B T I “.

Melihat situasi yang demikian majelis gereja merasa was-was terhadap tindakan BTI, maka setiap kali patok dengan tanda milik BTI ditancapkan segera dicabut kembali, sampai berulangkali aksi pasang dan cabut patok itu berlangsung. Dalam situasi yang menggelisahkan ini segenap majelis berunding untuk mengatasi karena merasa khawatir BTI akan menduduki tanah itu. Hal ini jadi salah satu alasan yang makin mendorong majelis selaku pengurus di Pepanthan Ngawi bertindak lebih cepat mendirikan tempat ibadah. Dimulai hanya sekedar omong-omong antar majelis disertai dengan doa dan usaha mengumpulkan dana, maka disusunlah Panitia Pembangunan gedung gereja Pepanthan Ngawi dengan susunan pengurus sebagai berikut :
Ketua : Bpk. Suradi
Sekretaris : Bapak Soedarno
Bendahara : Bapak Moelyadi
Bagian Usaha : Bapak Samuel Sadikun
Pembantu Umum : Bapak Digtoharjo

Pekerjaan pembangunan tempat ibadah yang sudah dibuat denahnya dengan ukuran 7m x 9 m ( untuk ruang ibadah 7m x 6m dan untuk ruang konsistori 7 m x 3 m ) dimulai pada bulan Juli 1962, pada saat itu ada salah satu warga yang menjabat Admistratur Kehutanan Wilayah Ngawi Bapak Tampubolon memberi bantuan modal kayu jati kurang lebih 60 m3 dan selanjutnya kayu jati dijual laku Rp.60.000.
Kesanggupan bantuan dari Bapak Tampubolon untuk gereja, selain kayu jati adalah 100 buah kursi dan satu mimbar gereja.

Berbagai macam bantuan diterima Pepanthan Ngawi selama pembangunan tempat ibadah yang berhasil di temukan data dan didapat dari penelusuran adalah sebagai berikut :
• Bapak Sudibyo selaku Bendahara Sinode GKJW memberi bantuan pinjaman uang sinode Rp. 25.000 jangka waktu pengembalian satu tahun tanpa bunga.
• Bantuan Presiden Soekarno Rp. 100.000 melalui Bapak Pdt. Susilo di Jakarta yang saat itu menjabat sebagai asisten Presiden Soekarno.
• Bapak Soecipto Darmoharjo (pengusaha penggergajian kayu) berupa material kusen jendela dan pintu. Semula anak perempuan Bapak Soecipto Darmoharjo menikah dengan pemuda Kristen Ngawi pada akhirnya sang pengusaha penggergajian kayu ini terpanggil menjadi murid Kristus.
• Melalui Bapak Pdt. Siswojo yang berkunjung ke Pepanthan Ngawi, menyerahkan bantuan lanjutan dari Presiden Soekarno sebesar Rp. 150.000.
• Gubernur Jawa Timur membantu semen 25 zak yang harus diambil sendiri oleh Panitia ke Gresik.
• Pada tahun 1965 dari Bupati Ngawi yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Soewoyo memberi bantuan Rp.50.000
• Masih banyak bantuan dan persembahan warga dan simpatisan yang tidak bisa disebutkan secara detail karena terbatasnya data dan informasi yang bisa dihimpun oleh tim penelusuran sejarah GKJW Ngawi.

D. Pendewasaan GKJW Jemaat Ngawi
Tuhan Sang Kepala Gereja menyaksikan jerih lelah, kerja keras dan kesungguhan hati domba miliknya untuk mewujudkan tempat ibadah yang layak, maka tangan Tuhan selalu berkarya memberi hikmat dan akal budi kepada seluruh Panitia dan warga Pepanthan Ngawi untuk terus berkarya menyelesaikan pembangunan rumah ibadah. Pada Tahun 1966 pembangunan tempat ibadah belum sepenuhnya selesai dikerjakan. Tapi mengingat warga Pepanthan Ngawi yang beribadah jumlahnya semakin bertambah dan rumah Bapak Suradi sudah tidak muat lagi menampung warga, maka disepakati tempat ibadah dipindahkan di gereja. Pelan tapi pasti, mulai dari pintu hingga ke pemasangan plafon akhirnya gedung gereja itu berhasil diselesaikan. Melihat tampilan fisik gedung gereja saat itu, menurut Bapak Moelyadi merupakan pembangunan terbaik di wilayah Madiun. (Pada saat itu GKJW Madiun belum direhab).

Perjalanan karya dan pelayanan Pepanthan Ngawi selanjutnya adalah mengupayakan peningkatkan pelayanan kepada warga yang semakin lama bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu Pepanthan Ngawi mengajukan permohonan kepada Majelis Agung GKJW melalui Klasis (MD Madiun-Kediri) untuk dapat menjadi jemaat yang dewasa dan mandiri. Permohonan Pepanthan Ngawi menjadi dewasa memang akhirnya disetujui oleh Majelis Agung GKJW, dalam sebuah ibadah pendewasaan jemaat yang pimpin oleh Ketua MD Kediri-Madiun yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak Pdt. Soedarman selaku pengurus Majelis Agung GKJW. Peresmian GKJW Pasamuan Ngawi disaksikan oleh segenap pendeta di lingkup Klasis (MD) Kediri-Madiun, tepatnya pada MINGGU, pukul 09.00 wib tanggal 26 Nopember 1967.

Peristiwa penting yang semakin melengkapi sukacita GKJW Jemaat Ngawi adalah pada tanggal 26 Nopember 1967, Bapak Pdt. Sumaryono yang sebelumnya telah ditempatkan di Pepanthan Ngawi ditakbiskan sebagai Pendeta baku pertama di GKJW jemaat Ngawi.
Untuk pepanthan jemaat yang ada saat itu hanya Dawu dan ada warga marenca di Jogorogo. ( Runtut peristiwa berdirinya 3 pepanthan : Kedunggalar, Kaweng dan Jururejo masih dalam penelusuran Tim sejarah GKJW Ngawi)
E. Berdirinya Pepanthan Dawu
Bapak Asyah adalah seorang perwira muda anggota Batalyon ARMED 12 yang mempunyai istri dari desa Dawu, pada suatu saat melapor kepada pengurus Pepanthan Ngawi bahwa ada beberapa tetangganya di Dawu ingin belajar agama Kristen. Selanjutnya ada permohonan supaya mereka dapat dilayani pembelajaran agama Kristen yang dilakukan dirumah perwira muda tersebut yang berdomisili di desa Dawu. Berdasarkan rembugan pengurus Pepanthan akhirnya diadakan pelayanan katekisasi (belajar agama Kristen) kepada calon warga gereja di desa Dawu sejumlah 17 KK setiap Rabu dan Minggu malam. Pelayanan katekisasi yang mereka terima cukup lama ( lebih dari setahun). Sampai akhirnya pada tahun 1968, calon warga sejumlah 17 KK tersebut minta dibaptiskan. Bersamaan dengan baptisan warga di Dawu pada tahun 1968 sekaligus disahkan Dawu sebagai salah satu Pepanthan GKJW Jemaat Ngawi.

KATEGORI JEMAAT
Sebagian besar warga GKJW Jemaat Ngawi bertempat tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan para warga pepanthan berdomisili di wilayah pedesaan. Bila ditelusur dari basis pekerjaan warga, maka GKJW Jemaat Ngawi bukanlah jemaat agraris karena sebagian besar warga jemaat adalah pegawai negeri, TNI yang bertugas di Batalyon Armed 12, baik yang masih aktip maupun yang sudah purna, sedangkan warga yang lain berprofesi sebagai pegawai swasta, pedagang kecil dan petani. Kategori kewilayahan budaya, GKJW Jemaat Ngawi berada di wilayah mataraman.

File sejarah
HUT / Tanggal Berdiri11/26/1967
Wilayah Pelayanan10 Desa dan 5 Kecamatan
Pepanthan/Blok/Rayon1. Kelompok Ellia
2. Kelompok Debora
3. Kelompok Yesaya
4. Kelompok Daniel
5. Pepanthan Kaweng
6. Pepanthan Jururejo
7. Pepanthan Kedunggalar
8. Pepanthan Dawu
Warga Jemaat Laki-laki205
Warga Jemaat Perempuan218
Warga Anak75
Pekerjaan MasyarakatASN
Pendidikan MasyarakatSMA (Sederajat)
Budaya / TradisiJawa
Konteks MasyarakatPERTANIAN DAN PERKOTAAN
Wilayah BerkembangTidak
Relasi Antar AgamaHarmonis
Gedung Gereja1, 2, 3, 4
Kapanditan1
Bale PamitranTidak Ada
Ruang Ibadah Anak1, 2, 3
Tanah Pekarangan1
SawahTidak Ada
Tanah MakamTidak Ada
Keterangan Mengenai Aset JemaatTIDAK ADA
Mayoritas Pekerjaan Warga JemaatPetani
Pendidikan Warga JemaatSMA (Sederajat)
Kategori JemaatJemaat Homogen (Jumlah Warga Jemaat lebih dari 70% jumlah penduduk setempat)
Kehadiran dalam Ibadah50-79 %
TK/PAUDDekat (0-5 Km)
SD/SederajatDekat (0-5 Km)
SLTP/ SederajatDekat (0-5 Km)
SLTA/ SederajatDekat (0-5 Km)
Perguruan TinggiJauh (Diatas 20 Km)
Bidan/Mantri PraktekDekat (0-5 Km)
Puskesmas/KlinikDekat (0-5 Km)
Rumah SakitDekat (0-5 Km)
Kantor Pemerintah DesaDekat (0-5 Km)
Kantor KecamatanSedang (6-19 Km)
Kantor Pelayanan PublikSedang (6-19 Km)
KoperasiDekat (0-5 Km)
BankSedang (6-19 Km)
PasarDekat (0-5 Km)
Terminal Angkutan UmumJauh (Diatas 20 Km)
Stasiun KASedang (6-19 Km)
BandaraJauh (Diatas 20 Km)
Program Utama JemaatPENINGKATAN KESADARAN BERGEREJA
Ketercapaian Anggaran 5 Tahun TerakhirRata-rata 90-99%
Catatan atau Informasi lain mengenai Jemaat